Kekeramatan Gunung Kelud Kediri, Ritual Sesaji Sarana Raih Wangsit
Gunung Kelud merupakan salah satu tujuan wisata di Jatim yang
cukup tersohor. Di balik keistimewaan tersebut, Gunung Kelud diselimuti
kabut misteri terkait keberadaan gunung berpuncak strato ini.
RITUAL sesaji Gunung Kelud taklepas dari sejarah yang terjadi pada
masa Kerajaan Kadiri. Pada saat itu, putri Raja Kadiri, yaitu Dewi
Kilisuci dilamar oleh 2 raja yang bukan dari bangsa manusia, Lembu Suro
dan Mahesa Suro.
Namun dengan segala tipu dayanya, Dewi Kilisuci berhasil menghindari
pinangan dari kedua raja tersebut. Atas kegagalan dan tipu daya Dewi
Kilisuci itulah, Lembu Suro, salah satu raja yang tertipu, sempat
mengucapkan kutukan kepada orang Kadiri. “Yoh wong Kadiri, mbesuk
bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping, yoiku Kadiri bakal dadi
kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung. (Ya, orang
Kadiri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kadiri bakal
jadi sungai, Blitar akan jadi daratan, dan Tulungagung menjadi danau,”
kutukan dari Lembu Suro pada saat tertipu oleh Dewi Kilisuci.
Sementara itu, karena usahanya gagal mempersunting Dewi Kilisuci,
putri Raja Kadiri, Lembu Suro dipenuhi oleh angkara murka. Sifat
angkara murka itulah yang pada akhirnya membunuh Lembu Suro dengan cara
dimasukkan ke dalam kawah Gunung Kelud oleh pasukan Kerajaan Majapahit
yang memburunya.
Dari legenda ini, akhirnya masyarakat lereng Gunung Kelud melakukan
sesaji sebagai tolak bala sumpah itu yang disebut ritual sesaji Gunung
Kelud sejak tahun 2005 lalu. “Serta sebagai wujud rasa syukur kepada
Tuhan YME atas hasil bumi yang melimpah serta keganasan Gunung Kelud
yang setiap saat meletus mengelurkan erupsinya,” ungkap Mbah Ronggo.
Tengara Musibah
Sementara itu, terkait dengan ritual sesaji yang digelar masyarakat
lereng Gunung Kelud pada 2007 silam, tatkala ritual digelar, sesepuh
Mbah Ronggo dalam ritualnya mendapati wangsit gaib. Yaitu berupa pesan
terjadinya pertanda besar menyoal keberadaan Gunung Kelud yang terletak
40 kilometer dari kota Kediri yang memiliki keunikan di puncaknya,
yakni berbentuk strato dengan danau kawah di tengahnya walaupun danau
kawah itu saat ini telah berubah bentuk menjadi kubah lava. Wangsit
tersebut mengatakan, “Le, sing ati-ati arep liwat Danyang Gunung Kelud,” tutur Mbah Ronggo mengenai pesan gaib yang merupakan pesan jika Gunung Kelud akan meletus.
Terbukti, tahun 2007 Gunung Kelud meletus dengan letusan terakhir
bersifat efusif (mengalirkan material), berbeda dari latusan sebelumnya
yang bersifat eksplosit (menyemburkan material).
Akibat letusan terakhir, danau kawah Gunung Kelud yang berwarna
hijau berubah menjadi kubah lava yang mengalirkan material berwarna
hitam dari dalam perut gunung. Ketinggian kubah saat ini mencapai 250
meter dengan lebar sekitar 400 meter.
Sepanjang sejarahnya, gunung ini tercatat mengalami 29 kali letusan,
baik eksplosif maupun efusif, mulai tahun 1000 sampai tahun 2007.
Erupsi eksplosifnya mampu menghancurkan ratusan desa di sekitarnya,
termasuk ribuan hektare lahan pertanian dan menewaskan ribuan warga.
Sebagai gambaran, lima letusan terakhirnya saja memakan korban 5.400
jiwa.
Berdasarkan pengamatan letusan selama tiga abad berturut-turut,
waktu istirahat terpanjang aktivitas dalam perut Gunung Kelud adalah
65-76 tahun, tetapi pernah pula hanya tiga tahun. Sejak letusan tahun
1901, waktu istirahat gunung itu menjadi lebih singkat, yaitu 15-31
tahun, bahkan pernah mencapai masa paling singkat, yaitu satu tahun.
Meski demikian, pesona gunung yang secara geografis berada di posisi
7.056′ Lintang Selatan dan 112.018,5′ Bujur Timur dengan ketinggian
1.650 meter di atas dataran Kediri atau 1.731 meter di atas permukaan
laut ini juga memiliki sungai air panas yang selalu dibalut dengan
kabut putih pekat.
Kelebihan lain, pembangunan wisata ini ditunjang dengan fasilitas
jalan menuju ke kawasan yang beraspal hotmix sampai ke ujung terowongan
menuju kawah. Hal ini memudahkan pengunjung yang ingin menjangkaunya
dengan berbagai jenis kendaraan, baik roda dua maupun roda empat,
bahkan sepeda pancal.
Menurut Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri
Mujianto, terdapat tidak kurang dari 1.000 pengunjung pada hari libur.
Pada saat diadakan kegiatan tertentu seperti ritual sesaji, jumlah
pengunjung bisa menembus 10.000 orang dalam satu hari.
Oleh karena itulah momentum ritual sesaji yang dulu hanya upacara
adat biasa sengaja dikemas cantik, sebagai pesona baru Gunung Kelud yang
diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan lokal ataupun
mancanegara.
SEMOGA BERMANFAAT!^^
sumber : http://jawatimuran.wordpress.com
Kamis, 21 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar